Terapi Okupasi pada Anak Berkebutuhan Khusus (Down Syndrome)
TERAPI OKUPASI PADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (DOWN SYNDROME)
Malihatush Sofyana Devi
P22040123028
Jurusan Teknik Elektromedik, Poltekkes Kemenkes Jakarta II
ABSTRAK
Terapi okupasi merupakan pendekatan terapeutik yang dirancang untuk mendukung anak-anak berkebutuhan khusus dalam mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Terapi okupasi memainkan peran penting dalam mendukung perkembangan anak dengan Down Syndrome, yang sering kali menghadapi tantangan dalam aspek motorik, kognitif, dan keterampilan sosial. Artikel ini bertujuan untuk meninjau peran dan fungsi serta manfaat terapi okupasi dalam meningkatkan kualitas hidup anak-anak dengan Down Syndrome.
Kata kunci: terapi okupasi, anak berkebutuhan khusus, Down syndrome
PENDAHULUAN
Anak berkebutuhan khusus dapat digolongkan dalam beberapa ketunaan, yaitu tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunagrahita, down syndrome, tunadaksa, tunalaras, anak berkesulitan belajar, dan anak lamban belajar (Amelia, 2019). Down syndrome merupakan kelainan genetik tambahan yang menyebabkan keterlamtan perkembangan anak, dan kadang mengacu pada retardasi mental. Anak dengan down sindrom memiliki kelainan pada kromosom nomor 21 yang tidak terdiri dari 2 kromosom sebagaimana mestinya, melainkan tiga kromosom (trisomi 21) sehingga informasi genetika menjadi terganggu dan anak juga mengalami keterlambatan perkembangan intelektual dan fisik.
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan setiap tahun ada 3.000–5.000 bayi terlahir dengan kondisi down syndrome dengan perkiraan 1 kejadian down syndrome per 1.000–1.100 kelahiran di seluruh dunia. WHO juga memperkirakan secara global saat ini terdapat 8 juta penderita down syndrome. Di Indonesia, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010–2018, kejadian down syndrome memiliki kecenderungan meningkat. Pada 2018 tercatat kecacatan sejak lahir untuk anak berusia 24–59 bulan sebanyak 0,41% dan down syndrome dialami oleh 0,21% kelompok usia tersebut.
Berdasarkan UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 13 Tahun 2020 tentang Akomodasi yang Layak untuk Peserta Didik Penyandang Disabilitas disebutkan bahwa penyandang disabilitas–termasuk penyandang down syndrome-memiliki kesempatan dan hak yang sama baik sebagai penyelenggara pendidikan, tenaga kependidikan, maupun sebagai peserta didik. Anak berkebutuhan khusus dalam hal ini anak dengan down syndrome memerlukan pendidikan dan layanan khusus (terapi) bagi mereka agar dapat mengembangkan potensi kemanusiaannya dan kemandiriannya sehingga kelak mereka dapat diterima serta menjadi bagian dalam kehidupan bermasyarakat sebagai anak normal.
Untuk dapat mencapai kemandirian tersebut anak dengan down syndrome perlu mendapatkan suatu terapi. Salah satu terapi yang dapat membantu anak down syndrome adalah terapi okupasi. Tujuan terapi okupasi ini memberikan rasa nyaman kepada anak yang mempunyai keterbatasan yang dalam hal ini adalah anak down syndrome, mengubah tingkah lakunya menjadi lebih baik, membuat perkembangannya mencapai tingkat normal, sebagai sarana untuk meningkatkan potensi diri guna mencegah hambatan dalam kehidupan sehari-hari serta agar anak tersebut mempunyai kemandirian dan dapat bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri (Amelia, 2019).
KAJIAN TEORI
1. Down Syndrome
Down syndrome merupakan salah satu penyakit kelainan kromosom. Down syndrome atau yang lebih dikenal sebagai kelainan genetik trisomi, di mana terdapat tambahan kromosom pada kromosom 21. Kromosom ekstra tersebut menyebabkan jumlah protein tertentu juga berlebih sehingga mengganggu pertumbuhan normal dari tubuh dan menyebabkan perubahan perkembangan otak yang sudah tertata sebelumnya.
Gambar 1.1 Susunan kromosom trisomi 21
Penyebab down syndrome masih belum diketahui secara pasti hingga saat ini. Namun, diketahui bahwa kegagalan dalam pembelahan sel inti yang terjadi pada saat pembuahan dapat menjadi salah satu penyebab yang sering dikemukakan dan penyabab ini tidak berkaitan dengan apa yang dilakukan ibu selama kehamilan.
Anak yang mengalami down syndrome dapat dibedakan menjadi tiga tahapan: ringan, sedang, dan berat. Karakteristik anak dengan kelainan down syndrome ringan yaitu ia masih lancar berbicara, tetapi memiliki masalah terhadap perbendaharaan kata-katanya karena mereka sedikit sulit untuk berfikir abstrak dan mereka masih dapat mengikuti pelajaran baik di sekolah biasa maupun sekolah khusus. Kemudian ada anak dengan kelainan down syndrome sedang yaitu mereka hampir tidak bisa mempelajari pelajaran akademik, perkembangan bahasa mereka juga lebih terbatas dibandingkan dengan penderita tunagrahita ringan, dan mereka hampir selalu bergantung pada orang lain. Kecerdasan mereka cenderung lambat dan mereka baru mendapatkan kecerdasan setara anak usia 7-8 tahun ketika mereka dewasa. Terakhir yaitu anak dengan kelainan down syndrome berat. Mereka sepanjang hidupnya akan selalu bergantung kepada orang lain, dan untuk aktivitas sehari-hari seperti makan, pergi ke kamar mandi, dan berpakaian, harus selalu dibantu oleh orang lain (Siti Nur Hidayah, 2011).
Anak dengan down syndrome sangat mirip satu dengan lainnya. Seorang anak pengidap down syndrome memiliki ciri-ciri fisik yang unik, antara lain sebagai berikut (Kosasih, 2012:81):
a. Mempunyai paras muka yang hampir sama seperti muka orang mongol. Pangkal hidungnya pendek. Jarak antara dua matanya berjauhan dan berlebihan kulit di sudut dalam.
b. Mempunyai ukuran mulut yang kecil dan lidahnya besar. Keadaan demikian menyebabkan lidah selalu terjulur. Pertumbuhan gigi lambat dan tidak teratur. Telinga lebih rendah. Kepala biasanya lebih kecil dan agak lebar dari bagian depan ke belakang. Lehernya agak pendek.
c. Mempunyai jari-jari yang pendek dengan jari kelingking membengkok ke dalam. Pada telapak tangan mereka biasanya hanya terdapat satu garisan urat dinamakan simian crease.
d. Mempunyai kaki agak pendek dengan jarak di antara ibu jari kaki dan jari kaki kedua agak berjauhan.
e. Mempunyai otot yang lemah. Keadaan demikian menyebabkan anak itu menjadi lembek.
2. Terapi Okupasi
Terapi okupasi merupakan istilah dari Occupational Therapy. Occupational secara harfiah berarti kegiatan, aktivitas atau pekerjaan. Dan therapy berarti upaya penyembuhan, pemulihan atau pengobatan. Pengertian terapi okupasi mengandung makna bahwa dalam melakukan penyembuhan atau pengobatan yang menggunakan aktivitas atau pekerjaan sebagai medianya perlu merujuk kepada kondisi mental yang dialami anak berkebutuhan khusus.
Tujuan terapi okupasi secara umum menurut Astati (1995:13) adalah mengembalikan fungsi fisik, mental, sosial, dan emosi dengan mengembangkannya seoptimal mungkin serta memelihara fungsi yang masih baik dan mengarahkannya sesuai dengan keadaan individu agar dapat hidup layak di masyarakat.
Pelaksanaan terapi okupasi dapat pelatihan aktivitas sehari-hari, berkomunikasi, sensori motor (motorik halus dan kasar) selain itu dapat juga digunakan untuk pemberian motivasi, kurang percaya diri dan latihan untuk anak yang mengalami gangguang psikososial, emosional
PEMBAHASAN
Terapi okupasi merupakan suatu terapi yang diberikan untuk melatih kemandirian, kognitif (pemahaman), kemampuan sensorik dan motorik anak dengan down syndrome. Terapi okupasi yang efektif dapat meningkatkan kemandirian pada anak down syndrome, hal ini dikarenakan terapi ini dapat mengembalikan fungsi fisik utama, meningkatkan gerak sendi, kekuatan otot dan koordinasi gerak yang dapat meningkatkan kemandirian anak down syndrome.
A. Peranan Terapi Okupasi
Menurut Tarmansyah, terapi okupasi memiliki peran sebagai berikut:
1. Sarana Penyembuhan, dalam kegiatan terapi okupasi megupayakan proses penyembuhan atau pemulihan dari kondisi yang berkelainan dengan kondisi yang lebih baik, walaupun tidak dapat kembali menjadi sempurna. Anggota tubuh yang kurang aktif dapat diberdayakan fungsinya. Demikian juga terhadap kondisi psikologis/mental emosional dapat diberdayakan untuk mengarah pada hal-hal yang positif.
2. Sarana Penyesuaian Diri, anak down syndrome biasanya mengalami hambatan dalam hubungannya dengan lingkungannya. Mereka agak sulit menyesuaikan diri. Melalui kegiatan terapi okupasi, anak diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.
3. Sarana Pengembangan Kepribadian, kegiatan terapi okupasi memberi peluang dan kesempatan untuk anak mengembangkan semua potensi yang dimilikinya. Bakat, minat, inisiatif, kreativitas, cita-cita dan berkarya dapat dikembangkan melalui berbagai kegiatan terapi okupasi sehingga menjadi insan yang mandiri tanpa menggantungkan pada pihak lain.
4. Sarana Bekal Hidup di Masyarakat, kegiatan terapi okupasi yang dilakukan untuk menyembuhkan, mengobati baik kondisi fisik/mental yang mengalami gangguan secara tidak langsung dapat memberi bekal keterampilan yang dapat digunakan di masa kedepannya.
B. Cakupan Layanan Terapi Okupasi
Menurut Suhandi (1995), dalam terapi okupasi pengelompokkan masalah yang dihadapi oleh individu menjadi empat masalah besar, yaitu:
1. Biologis
Pada ilmu kedokteran, masalah biologis sering diartikan sebagai penyakit atau kelainan pada sistem tubuh manusia. Masalah fisik/biologis akan terjadi pada sistem otot dan tulang, sistem jantung dan paru-paru dan sistem sensori. Contoh masalah yang berkaitan dengan fisik/biologis adalah sebagai berikut:
a. Keterbatasan ruang gerak sendi
b. Berkurangnya atau hilangnya vital kapasitas paru-paru dan daya tahan tubuh
c. Sistem otot menjadi lemah dan layu
d. Berkurangnya fungsi dari sistem penglihatan, pendengaran, dan pengecapan
e. Adanya rasa nyeri pada sendi dan lainnya
f. Gangguan koordinasi gerakan
2. Psikologis
Secara psikologis, anak berkebutuhan khusus banyak mengalami masalah yang sangat kompleks. Masalah psikologis yang dialami meliputi gangguan orientasi waktu dan ruang, konsentrasi, emosi, memori dan berpikir. Contoh masalah psikologis yang dihadapi anak autisme antara lain sebagai berikut :
a. Percaya diri yang rendah
b. Perasaan malu akibat perbedaannya
c. Tidak ada inisiatif dan hilangnya motivasi
d. Ketidakmampuan berkonsentrasi
e. Hilangnya kontrol diri
f. Mudah marah-marah
3. Sosial
Pada saat melakukan aktivitas sehari-hari anak akan selalu berinteraksi dengan orang lain baik keluarga, tetangga maupun masyarakat sekitarnya. Interaksi antara anak dengan orang lain dapat berbentuk verbal maupun non verbal. Masalah-masalah sosial yang dialami anak autisme antara lain berbentuk :
a. Menarik diri dari lingkungan
b. Kurang mampu berinteraksi dengan sesama
c. Berkurangnya kemampuan berkomunikasi
d. Perilaku-perilaku yang anti sosial
e. Kurang mampu bergaul secara berkelompok
4. Okupasi
Masalah-masalah okupasi yang dialami anak berkebutuhan khusus merupakan manifestasi dari kesulitan atau kegagalan gabungan aspek-aspek fisik, psikis, dan sosial. Masalah-masalah okupasi yang dialami tersebut dapat berupa:
a. Hilangnya/berkurangnya kemampuan kerja
b. Kurang mampu mempelajari skill baru
c. Kurang mampu melakukan kegiatan hidup sehari-hari
C. Tahapan Terapi Okupasi
Proses tahapan dalam terapi okupasi adalah suatu proses dimana terapis menangani anak berkebutuhan khusus langsung mulai dari awal hingga akhir. Proses pelaksanaan yang diberikan kepada individu yang mengalami permasalahan fisik, mental, perilaku sosial, emosional menggunakan urutan sebagai berikut (Padreti, 1981) :
1. Rujukan (referral)
Treatment terapi okupasi pada anak berkebutuhan khusus termasuk down syndrome mendasarkan rujukan dari ahli terkait seperti dokter, psikolog, psikiater, guru dan lainnya.
2. Analisa data
Data dari anak yang diperoleh dari rujukan tersebut perlu dilakukan analisa terbih dahulu. Analisa data ditekankan kepada gejala-gejala yang terlihat pada tampilan fisik, psikis maupun sosial anak. Hal tersebut dilakukan sebagai tahapan dalam menentukan program terapi okupasi yang akan
3. Menentukan Kebutuhan Anak
Setelah mendapatkan rujukan dari ahli terkait dengan permasalahan yang dialami oleh anak autis baik fisik, psikis, ataupun sosialnya maka terapis perlu menentukan kebutuhan-kebutuhan terapi yang harus dilaksanakan.
4. Seleksi Tujuan Utama
Berdasarkan seleksi beberapa kebutuhan anak pada area perawatan diri, produktivitas, dan pengisian waktu luang maka diperlukan perencanaan kegiatan untuk menggambarkan tujuan dilaksanakannya kegiatan terapi okupasi.
5. Seleksi Mode
Setiap anak donw syndrome yang mengalami permasalahan baik pada area perawatan diri, produktivitas ataupun pemanfaatan waktu luang perlu dibuatkan program kegiatan yang akan dilaksanakan dan diperlukan seleksi metode atau pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan dari sang anak.
6. Pelaksanaan Mode
Setelah program terapi dibuat sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan sang anak, maka pelaksanaan program terapi dapat dilakukan secara individu maupun secara kelompok.
7. Evaluasi
Kegiatan evaluasi ini dilakukan pada anak berkebutuhan khusus tersebut untuk melihat sejauh mana perkembangan dari anak dan untuk melihat kekurangan dan kelebihan dari program terapi yang dibuat.
D. Metode dalam Praktik Terapi Okupasi
Pada kegiatan terapi okupasi digunakan pendekatan-pendekatan yang sesuaikan dengan permasalahn fisik dan psikologis dari anak autisme. Metode yang digunakan untuk membantu mengatasi permasalahan fisik pada anak adalah dengan pendekatan neurodevelopmental, pengobatan dengan teknik biomekanik, terapeutik media, pendekatan rehabilitasi.
1. Pendekatan Neurodevelopmental
Metode terapi okupasi ini digunakan pada anak yang mengalami gangguan sensormotorik, perseptual dan kognitif yang disebabkan oleh kerusakan pada otaknya. Metode ini menggunakan teknik secara anatomi, fungsi serta reorganisasi dari sistem syaraf pusat dan mengikuti urutan perkembangan manusia. Pada prakteknya, pendekatan ini meliputi evaluasi dan treatment dari sistem sensasi dan somatosensori, evaluasi motor kontrol, pendekatan secara neurofisiologi dan perkembangan, serta evaluasi dan treatment sistem kognitif dan persepsi. Pada evaluasi dan treatment dari sistem sensasi dan somatosensori, yang dievaluasi meliputi pendengaran, pengecapan, penciuman, keseimbangan, penglihatan, rasa sentuh, rasa gerakan dan rasa suhu dan nyeri. Evaluasi motor kontrol yang tersusun dari sistem syaraf pusat, sistem saraf perifer dan otot yang dapat mempengaruhi ruang gerak sendi. Pendekatan secara neurofisiologis digunakan untuk mengobati individu yang mempunyai gangguan motorik kontrol yang disebabkan karena kerusakan pada otak.
2. Teknik Biomekanik
Teknik ini digunakan untuk individu yang mempunyai masalah lingkup derajat gerak sendi, daya tahan tubuh, dan kekuatan otot. Prinsip terapi yang diberikan adalah meningkatkan kekuatan otot, meningkatkan daya tahan otot, meningkatkan derajat gerak sendi dan koordinasi tubuh.
3. Terapeutik Media
Kegiatan terapi okupasi sangat mempertimbangkan aktivitas yang bertujuan karena terapi ini percaya dengan aktivitas yang bertujuan akan membuat individu berkembang fungsi kognitif, persepsi, psikososial dan motor skillnya. Jadi aktivitas yang digunakan harus mempunyai nilai-nilai intrinsik dan potensi terapeutik.
4. Pendekatan Rehabilitasi
Pendekatan ini merupakan pendekatan yang sangat cocok untuk individu yang mempunyai kebutuhan khusus. Tujuan utama dari pendekatan rehabilitasi ini ialah untuk meningkatkan kemandirian dalam melakukan setiap aktivitas dalam kehidupan sehari-hari.
E. Indentifikasi Pengenalan Kasus (Assesment)
Identifikasi pengenalan kasus adalah suatu rangkaian proses pemerikasaan awal kepada anak yang mencakup tampilan motorik, sensoris, emosi dan fungsi psikologis. Proses identifikasi pada anak donw syndrome meliputi penghimpunan data berupa catatan medik, catatan ahli, teman, kerabat serta anggota keluarganya. Pada saat dilakukan pemeriksaan diperlukan cara dan alat tertentu agar pemeriksaan dapat dilakukan secara akurat. Menurut Reksopranoto (1992) mengemukakan empat cara pemeriksaan dalam identifikasi pengenalan kasus, yaitu metode wawancara, observasi, tes dan pemeriksaan klinis.
1. Metode wawancara
Metode wawancara merupakan suatu bentuk percakapan yang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kondisi fisik/mental anak secara langsung yaitu kepada anggota keluarga atau orang terdekat. Teknik wawancara ini merupakan cara yang cukup baik untuk digunakan mengungkapkan pengalaman, perasaan, emosi, motif, karakter dan aspek-aspek kejiwaan lainnya yang bersifat subyektif. Dalam wawancara perlu diciptakan suasana yang kondusif agar anak maupun anggota keluarga dapat bersikap terbuka.
2. Observasi
Metode ini dilakukan sebelum kegiatan terapi okupasi dilaksanakan pada anak. Hal ini dimaksudkan sebagai suatu pengamatan atas gejala-gejala penyimpangan nampak secara keseluruhan. Pada observasi kegiatan yang dilakukan adalah melihat, mencatat jumlah/taraf gejala dari perilaku yang muncul dan dominan terutama yang menyalami penyimpangan. Observasi dalam kegiatan okupasi digunakan untuk mengetahui interaksi anak dengan lingkungan sekitarnya. Pada kegiatan observasi diperlukan ingatan yang kuat dan kecepatan dalam memahami materi yang diperoleh.
3. Tes
Tes merupakan alat yang paling sering dipergunakan dalam teknik pemeriksaan pada anak. Pada umumnya setiap perangkat tes mempunyai tujuan dan fungsi tertentu. Adapun tujuan tes yang dilakukan untuk identifikasi kasus pada anak berkebutuhan khusus adalah untuk mendapatkan data yang kemudian dianalisa secara intensif terhadap latar belakang suatu keadaan atau gejala agar dapat dipergunakan sebagai pedoman dalam usaha penyembuhan atau terapi.
F. Kegiatan Terapi Okupasi
Pada kegiatan terapi okupasi terdapat aktivitas-aktivitas individu yang digolongkan menjadi tiga jenis yaitu produktif (productivity), perawatan diri (self care), dan mengisi waktu luang (leisure).
1. Produktivitas (Productivity)
Produktivitas merupakan semua kegiatan yang dikerjakan individu yang memungkinkan seseorang dapat menghidupi dirinya, keluarga dan orang lain dengan cara menghasilkan barang atau jasa untuk menunjang kesehatan maupun kesejahteraannya. Kegiatan yang produktif tersebut misalnya: ·
· Bertani
· Membuat kerajinan
· Berkebun
· Bertukang
2. Perawatan diri (Self care)
Perawatan diri merupakan suatu kegiatan yang dikerjakan individu secara rutin untuk memelihara kesehatan dan kesejahteraan dalam lingkungannya. Kegiatan perawatan diri meliputi:
· Memegang makanan kecil, dapat makan
· Memegang sendok, garpu, dapat makan pakai sendok/garpu
· Memegang gelas/cangkir, dapat minum dengan gelas/cangkir
· Membuka botol macam-macam ukuran/jenis
· Memakai pakaian
· Melepas pakaian
· Memasang kancing baju
· Membuka kancing baju
· Membersihkan wajah, menghias wajah
· Memakai sapu tangan
· Memakai jam tangan
3. Mengisi Waktu Luang (leisure)
Mengisi waktu luang adalah suatu kegiatan yang dikerjakan untuk tujuan mendapatkan kesenangan, gembira, kepuasan atau selingan. Kegiatan pengisi waktu luang tersebut dapat membantu individu mencapai kesehatan maupun kesejahteraannya. Kegiatan tersebut misalnya:
· Menonton TV
· Bermain
· Membaca buku/koran
· Olahraga
· Mendengarkan musik.
SIMPULAN
Terapi okupasi memainkan peran penting dalam mendukung perkembangan anak dengan Down Syndrome, khususnya dalam meningkatkan keterampilan motorik halus, kemampuan sensorik, kemandirian, serta partisipasi sosial dan akademik. Program terapi disesuaikan dengan kebutuhan individu, melibatkan pendekatan holistik, dan berfokus pada aktivitas sehari-hari yang relevan. Dengan intervensi yang konsisten dan kolaborasi antara terapis, keluarga, dan tenaga pendidik, terapi okupasi dapat membantu anak mencapai potensi maksimalnya dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
Daftar Pustaka
Dra. Siti Mahmudah M.Kes, D. S. (2008). Terapi Okupasi untuk Anak Tunagrahita dan Tunadaksa. Semarang: Unisa University Press.
Indahri, Y. (2023). Peringatan Hari Down Syndrome Sedunia.
Irwanto, H. W. (2019). A-Z Sindrom Down. Surabaya: Airlangga University Press.
Mujahidah, M. (2016). Penggunaan Teknik Modeling Terhadap Orang Tua yang Memiliki Anak Down Syndrome.
Yulianti, R. (2024). PELAKSANAAN TERAPI OKUPASI DALAM PERKEMBANGAN EMOSI DAN PERILAKU PADA ANAK AUTIS DI PUSAT BELAJAR ANAK BERKEBTUHAN KHUSUS BINTANG BUNDA KOTA PEKANDARI. Riau.
pembahasan sangat lengkap dan informatif, terimakasih ^^
BalasHapusFirst dpt apa ni kak
BalasHapusKeren sangat informatif dan bermanfaat 👍🏻
BalasHapuskeren bangat mba pwj
BalasHapus